TAMAN TRANSIT - Proposal MTA untuk Sayembara Transport Hub Dukuh Atas

Inti proposal kami adalah menyarankan agar koneksi lima stasiun yaitu: Stasiun MRT, Stasiun BNI City, Stasiun Sudirman Baru, Stasiun LRT, halte Trans Jakarta dan kendaraan pribadi terjadi di LANTAI DASAR dalam bentuk taman yang merupakan konversi dari sebagian ruas Jalan Blora, Jalan Kendal dan Jalan Tanjung Karang menjadi taman dan jalur pejalan kaki. Saya bayangkan taman transit ini menjadi ruang kota yang baru yang menandai perubahan orientasi Jakarta menuju kota yang sehat dan manusiawi.

Sayembara Transport Hub di Kawasan Berorientasi Transit Dukuh Atas

MTA terpilih menjadi satu dari enam finalis yang maju ke penjurian tahap akhir Sayembara Transport Hub di Kawasan Berorientasi Transit Dukuh Atas, Jakarta. Penjurian sudah dilakukan di kantor MRT Jakarta pada tanggal 14 Agustus 2018. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 31 Agustus 2018. Update: Pemenang akan diumumkan pada acara pameran dan penganugrahan pada tanggal 27 September 2018 di Jakarta.

Link berita penjurian di SINI

UPDATE:

Proposal MTA berjudul ‘Taman Transit’ terpilih sebagai Juara 2 Sayembara Transport Hub di Kawasan Berorientasi Transit Dukuh Atas, Pameran Karya dan Pengumuman Pemenang dilakukan di Ballroom Thamrin Nine pada tanggal 27 September 2018, dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Direksi MRT Jakarta, para peserta dan rekan-rekan arsitek.

Proposal MTA lain berjudul ‘Titian Transit’ yang masuk dalam seleksi 24 finalis juga dipamerkan.

Tempo 1 April 2018: Sketsa dan Gambar Thamrin, Rekonstruksi Bangunan pada Kertas

Ulasan Bambang Bujono tentang Impromptu, Pameran Sketsa Muhammad Thamrin di kopimanyar, Bintaro, 10 Maret - 10 April 2018; dimuat di Majalah Tempo, 1 April 2018.

Pengantar Avianti Armand pada Pembukaan Pameran Impromptu di Kopimanyar

IMPROMPTU - Pameran Sketsa Muhammad Thamrin, 10 Maret - 10 April 2018, Kopimanyar, Jalan Bintaro Tengah Raya No. 14 Bintaro.

Ketika mas Thamrin meminta saya memberikan sambutan untuk pembukaan pameran sketsanya, Impromptu, saya merasa senang dan terhormat. Mas Thamrin adalah teman dan arsitek yang saya kagumi bukan saja karena kompetensinya, tapi terlebih oleh kerendahan hati dan kesabarannya; dua  properti yang tidak mungkin akan dilekatkan orang pada saya.

Mungkin karena itu mas Thamrin cocok dengan sketsa, sementara saya tidak.

Dalam pengantarnya untuk Bandung Sketchwalk, ia mengatakan, “menggambar membuat kita berhenti sejenak dan mengamati dengan lebih seksama.”

Di dunia yang berlari, menggambar adalah berjalan dengan langkah yang pelahan. Ketika kita bergegas merekam gambar dengan instagram dan dengan riuh menampilkannya lewat berbagai macam efek pulasan di akun kita hanya dalam beberapa detik saja, para penggambar dengan sabar duduk, mengamati, dan menangkap gestalt atau kesatuan bentuk dari benda-benda.

Pada momen itu, beberapa peristiwa terjadi sekaligus.

Melalui mata dan tangan, kita mempelajari proporsi dan skala dengan hati-hati dan seksama. Dengan demikian, tubuh tidak hanya merekam, melainkan juga menginternalisasi keduanya. Melalui kesadaran yang terbangun pelan-pelan, kita juga hadir di dalam ruang. Kita menjadi peka pada cahaya dan bayangan, pada yang jauh dan yang dekat, pada kualitas-kualitas taktil yang mengusik indera. Pada momen itu, kita membuat ikatan dengan tempat di mana kita berada.

Karena itu, dengan optimis, mas Thamrin juga menyatakan, “Dengan menggambar lingkungan sekitar kita, mudah-mudahan kita menjadi lebih peka dan peduli pada kota kita.”

Tapi membuat sketsa bukan hanya untuk tujuan mulia tersebut. Ia adalah kegiatan yang menyenangkan. Sebuah rekreasi – yang jika kita kembalikan kata itu pada maknanya – adalah: penciptaan kembali. Di dalam proses itu, kita seperti tercebur pada sebuah permainan, di mana setiap coretan menuntun pada coretan berikutnya. Jika Stephane Mallarme, penyair Perancis, mengatakan, “Inisiatif tidak ada pada penyair – tapi pada kata,” maka dalam menggambar, inisiatif bukan pada pembuat skets – melainkan pada garis.

Karena itu di dalam menggambar, tak ada “kesalahan” atau “kecelakaan”. Dan karenanya, tak perlu sentuhan yang berlebihan, "make up" yang menyamarkan keduanya. Dalam menggambar sketsa, kita tidak saja belajar untuk mengejar “kebenaran”, tapi juga berlatih berhenti di saat yang tepat – dan membiarkan gambar menyisakan masih banyak ruang untuk interpretasi dan imajinasi. Dengan lucu, mas Thamrin menganalogikan proses sketsanya dengan “roti gosong”: kalau digambar terlalu lama, sketsa kehilangan gregetnya, spontanitasnya, kesegarannya. Seperti roti gosong yang dipanggang kelamaan.

Memang, setiap sketsa bergerak antara mimesis dan metamorfosis.

Dalam mimesis, kita menirukan realitas dengan setia. Makin persis makin baik dan benar. Prinsip ini punya sejarah yang jauh ke belakang, Pandangan pemikir Yunani Kuno, Aristoteles, menjejak jelas: seni hanya benar bila meniru apa yang terjadi dalam alam dan kehidupan. Dengan kata lain, yang ingin diteguhkan sebagai "kebenaran" adalah sesuainya peniruan ekspresi seseorang dengan apa yang ada di dunia, di kancah benda dan peristiwa di luar dirinya.

Dalam seni modern, hal itu menggelikan karena mengingkari, atau setidaknya tak memahami, impuls kreatif dalam seni -- impuls yang justru membuka jalan ke hal-hal yang tak lazim dan yang tak terduga-duga.

Dalam metamorfosis kita tidak berusaha menegakkan persamaan antara karya dengan dunia, kita tidak sedang meletakkan marka-marka similaritas. Dalam metamorphosis, kita memanjakan energi kreatif, membentuk sesuatu yang baru dan sama sekali lain, dengan imajinasi. Bahkan dengan kegilaan.

Orang-orang yang hidup dalam mimesis: hidup dengan dunia yang mandeg. Takluk oleh realita. Sementara itu, metamorphosis adalah hasil dari melihat dunia dengan terpesona – menyulap benda dan pengalaman jadi hal-hal yang tak seperti sebelumnya – proses produksi sesuatu yang baru. Dalam kebaruan itu ada perayaan akan kebebasan – bebas dari kesamaan dengan dunia atau realita  dalam persepsi orang lain. Bebas dari hirarki kebenaran.

Jika sketsa ada di antara keduanya, maka yang diperlukan adalah kerendahan hati: kerelaan untuk mengadopsi dunia di luar kita sebagai realitas tanpa keharusan “menaklukan”nya di atas kertas. Sebaliknya, kita membebaskan diri untuk (seperti anak kecil) terpesona dan mencoba menciptakan realitas baru secukupnya, tanpa persiapan dan latihan. Impromptu – seperti judul dari pameran ini.

Untuk mas Thamrin, selamat. Untuk teman-teman sekalian, bebaskan diri anda  menikmati pameran ini impromptu.

(Avianti Armand)

"Kembali ke Kota" - MTA dalam pameran IndonesiaLand di Selasar Sunaryo, Bandung

IndonesiaLand adalah sebuah pameran arsitektur yang digagas Selasar Sunaryo dan dikurasi oleh Sarah M. Ginting. Pameran yang berlangsung selama bulan September 2016 ini memamerkan karya 30 arsitek, komunitas, pengembang dan sekolah-sekolah arsitektur di Indonesia.

Dalam pengantarnya kurator mengatakan bahwa: "IndonesiaLand berinisiatif memaparkan realitas masyarakat Indonesia, dengan arsitektur sebagai subjek pengisahannya. Pameran berdatumkan architectural culture reporting, memperspektifkan kemajemukan wajah arsitektur Indonesia, yang selama ini  lazim dipersepsikan awam sebatas pameran komodifikasi ruang kapital.  Ikhtiar Indonesialand adalah dengan lugas, mengisahkan kedinamisan masyarakat mengelola potensi maupun tantangan pada ruang urban Indonesia". (Silakan baca Pengantar Pameran lengkap).

panels.jpg

"Kembali ke Kota"

Ini adalah sebuah studi untuk menemukan bentuk ruang kota dan volume bangunan baru yang sesuai dengan karakter kota lama Bandung; sambil tetap memenuhi kebutuhan ruang baru, mengoptimalkan intensitas penggunaan lahan, serta mengembalikan kepadatan dan vitalitas kota.

Kota lama Bandung masih merupakan bagian kota terbaik dengan ruang-ruang kota yang nyaman dan bangunan-bangunan yang indah; yang belum tertandingi tempat lain yang kita bangun setelah kemerdekaan. Warisan terbaik ini sedang mengalami tekanan hebat akibat ketergantungan kita pada kendaraan pribadi; logika pengembangan properti yang berprinsip memaksimalkan ruang terbangun; serta berbagai teori dan peraturan yang secara tidak sengaja mendorong kerusakan karakter pusat kota lama Bandung.

Studi ini mendekati ruang kota secara VISUAL; yakni mencari proporsi ruang publik dan massa bangunan yang ideal untuk menjaga karakter kota lama, lalu menyimpulkan batas tinggi bangunan, intensitas pengembangan dan ruang terbuka sebagai alat untuk mencapai tujuan visual tersebut. Studi ini menyarankan kembalinya fungsi hunian di tengah kota untuk menciptakan ruang-ruang publik yang hidup dan aktif dan aman.